Melindungi Kesehatan dari Kepungan Ultra Processed Foods

Rak-rak supermarket modern saat ini didominasi oleh berbagai jenis produk makanan olahan dalam kemasan. Sebagian besar di antaranya termasuk kategori Ultra Processed Foods (UPF), yakni pangan olahan ultra-proses yang diformulasikan secara industri. Sejumlah laporan sains, termasuk yang dipublikasikan media internasional seperti BBC Science, menyoroti dampak konsumsi UPF terhadap kesehatan, terutama terhadap keseimbangan mikroba di lambung dan usus.

Contoh UPF mudah ditemukan dalam keseharian: mi instan lengkap dengan bumbu dan minyak, sosis, nugget, bakso pabrikan, roti tawar kemasan tahan lama, biskuit dan wafer, minuman bersoda dan minuman manis dalam botol, minuman serbuk instan, sereal sarapan tinggi gula, es krim produksi massal, saus botolan, hingga aneka camilan gurih dengan tambahan perisa.

Berbagai penelitian mengaitkan konsumsi UPF secara berlebihan dengan peningkatan risiko gangguan pencernaan seperti GERD dan gastritis, obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, kanker tertentu, serta gangguan kesehatan mental termasuk depresi. Meski hubungan sebab-akibatnya terus diteliti, tren epidemiologis menunjukkan korelasi yang konsisten.

Secara ilmiah, definisi UPF banyak merujuk pada sistem klasifikasi NOVA yang dikembangkan peneliti di Brasil. Dalam sistem ini, UPF bukan sekadar makanan yang diproses, melainkan produk yang dirakit dari zat hasil ekstraksi atau rekayasa industri. Komponennya dapat berupa pati termodifikasi, gula rafinasi, minyak terhidrogenasi, isolat protein, serta berbagai aditif seperti pengemulsi, pewarna, perasa, dan pemanis buatan. Tujuan formulasi tersebut antara lain memperpanjang umur simpan, menekan biaya produksi, dan menciptakan rasa yang sangat kuat serta konsisten.

Produksi massal UPF berkembang pesat sejak dekade 1970-an dan 1980-an, didukung kemajuan teknologi pangan dan kebijakan subsidi komoditas seperti jagung dan kedelai. Bahan mentah pertanian diolah menjadi komponen terpisah, misalnya sirup jagung tinggi fruktosa atau minyak nabati terhidrogenasi, lalu dirakit ulang melalui proses industri seperti ekstrusi bertekanan tinggi. Untuk menjaga stabilitas tekstur dan rasa selama penyimpanan panjang, ditambahkan kombinasi zat aditif sintetis.

Di tengah kepungan UPF tersebut, sejumlah langkah preventif dapat dipertimbangkan untuk melinungi kesehatan. Membaca label komposisi menjadi langkah awal untuk mengenali panjangnya daftar bahan dan keberadaan aditif. Memasak dari bahan mentah utuh seperti sayur, daging, telur, dan biji-bijian membantu membatasi paparan zat tambahan. Asupan serat alami juga penting untuk menjaga keberagaman mikrobiota usus, yang berperan dalam mempertahankan lapisan pelindung saluran cerna. Selain itu, pengurangan konsumsi UPF secara bertahap dinilai lebih realistis dibanding penghentian mendadak.

Industri pangan diperkirakan akan terus memproduksi makanan yang praktis dan tahan lama. Karena itu, penguatan literasi gizi dan kesadaran konsumen menjadi faktor kunci dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan, metabolisme, dan keseimbangan tubuh secara menyeluruh.

Leave a Response