Pernyataan seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, menuai sorotan publik setelah unggahan di media sosialnya viral.
Dalam unggahannya pada Jumat, 20 Februari 2026 di akun media sosialnya (Instagram @sasetyaningtyas), ia menuliskan kalimat, “I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”
Pernyataan itu memicu beragam respons dari warganet. Sebagian menilai kalimat tersebut sebagai bentuk kekecewaan pribadi, sementara yang lain menganggapnya sensitif karena menyangkut identitas kebangsaan.
Menanggapi polemik tersebut, Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, menjelaskan bahwa seluruh awardee dan alumni LPDP wajib melaksanakan masa pengabdian atau kontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun.
“Sesuai ketentuan, seluruh awardee dan alumni LPDP memiliki kewajiban untuk melaksanakan masa pengabdian berkontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun,” ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu 21 Februari 2026.
Dalam kasus Dwi Sasetyaningtyas yang menempuh studi magister selama dua tahun, kewajiban kontribusinya adalah lima tahun. Dwi Larso menegaskan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan seluruh kewajiban tersebut.
“Saudari DS telah menyelesaikan studi S2 dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017, serta telah menuntaskan seluruh masa pengabdian sesuai ketentuan. Dengan demikian, LPDP tidak lagi memiliki perikatan hukum dengan yang bersangkutan,” jelasnya.
Meski kewajiban administratif telah dipenuhi, LPDP menyatakan akan tetap berupaya melakukan komunikasi agar alumni yang bersangkutan lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memperhatikan sensitivitas publik, serta mengingat kembali kewajiban kebangsaan penerima beasiswa untuk mengabdi kepada negeri.
Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, merupakan sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung. Ia melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology, Belanda, pada jurusan Sustainable Energy Technology dengan beasiswa LPDP pada 2015 dan lulus pada 2017. Ia tercatat berada di Indonesia sejak 2017 hingga 2023.
Selama masa pengabdian, Tyas menginisiasi penanaman 10 ribu pohon bakau di berbagai pesisir, memberdayakan ibu rumah tangga agar dapat berpenghasilan dari rumah, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatra, serta berkontribusi dalam pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur. Ia juga dikenal sebagai pendiri sejumlah inisiatif sosial dan aktif mengkritisi kebijakan publik.
Saat ini, Tyas kembali ke Inggris untuk mendampingi suaminya yang bekerja sebagai Senior Research Consultant di University of Plymouth.
Menanggapi polemik tersebut, Tyas menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia mengakui pernyataannya lahir dari rasa kecewa dan frustrasi pribadi, namun menyadari bahwa kalimat tersebut tidak tepat dan berpotensi melukai perasaan banyak orang. Ia menegaskan mencintai Indonesia dan berharap tetap dapat berkontribusi bagi bangsa di masa mendatang.



