JAKARTA – Bill Gates selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu figur teknologi yang sangat optimistis terhadap kemampuan inovasi dalam mengubah kehidupan manusia. Namun, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat pendiri Microsoft tersebut mulai menyampaikan kekhawatiran yang semakin tegas.
Perubahan nada itu terlihat jika dibandingkan dengan sikap Gates ketika internet berkembang pesat pada pertengahan 1990-an. Dalam memo internal Microsoft berjudul The Internet Tidal Wave pada 26 Mei 1995, Gates menempatkan internet sebagai teknologi dengan tingkat kepentingan tertinggi bagi perusahaan.
Berbagai keterbatasan internet saat itu, mulai dari jaringan, keamanan hingga sistem pembayaran digital, dipandang sebagai persoalan yang dapat diselesaikan seiring perkembangan teknologi dan infrastruktur.
Optimisme serupa masih terlihat ketika Gates membahas AI dalam esai The Age of AI Has Begun pada Maret 2023. Ia menyebut AI sebagai teknologi revolusioner yang dapat disejajarkan dengan telepon seluler dan internet.
Gates melihat kecerdasan buatan memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat riset kesehatan, serta memperbaiki kualitas pendidikan. Namun, pada saat bersamaan, ia mulai memberi perhatian terhadap berbagai risiko yang menyertainya.
Risiko tersebut mencakup hilangnya sejumlah pekerjaan, serangan siber, penyebaran informasi palsu, bias algoritma hingga kemungkinan munculnya sistem AI dengan kemampuan yang semakin sulit dikendalikan manusia.
Memasuki 2026, perhatian Gates bergeser semakin kuat pada kecepatan perkembangan teknologi tersebut.
Persoalannya bukan lagi sebatas apakah AI akan memberikan manfaat, tetapi apakah masyarakat, pemerintah dan dunia kerja memiliki cukup waktu untuk beradaptasi.
AI juga berbeda dengan internet. Jika internet terutama mempercepat komunikasi dan distribusi informasi, kecerdasan buatan dapat mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan kognitif manusia.
Bidang hukum, kesehatan, pemrograman, pelayanan pelanggan, analisis data hingga industri kreatif mulai berhadapan langsung dengan otomatisasi berbasis AI.
Gates bahkan menyatakan bahwa jika tersedia mekanisme global yang kredibel untuk memperlambat perkembangan AI, gagasan tersebut sebaiknya segera dilakukan.
Sikap itu menunjukkan perubahan penting dari salah satu tokoh yang selama puluhan tahun identik dengan optimisme teknologi.
Pada era internet, tantangannya adalah bagaimana mempercepat pemanfaatan teknologi. Pada era AI, pertanyaannya mulai berubah: apakah manusia masih memiliki cukup waktu untuk mengejar kecepatan teknologi yang mereka ciptakan sendiri.

