JAKARTA – Episode erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, tetapi aktivitas vulkanik dan penyebaran abu masih memerlukan kewaspadaan. Erupsi menerus terjadi sejak Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.
Setelah fase tersebut berakhir, Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat tiga erupsi strombolian dengan kolom berwarna hitam. Aktivitas kegempaan juga masih tinggi, antara lain berupa 93 gempa frekuensi rendah dan 98 gempa hybrid atau fase banyak. Kondisi itu membuat Anak Krakatau tetap berstatus Level III atau Siaga, dengan potensi letusan susulan masih tinggi.
Sementara itu, BMKG melaporkan abu vulkanik pada Senin, 7 September 2026, masih teramati hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer. Abu bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot, meliputi sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan perairan sekitarnya. Pada lapisan lebih tinggi, abu terpantau hingga 50.000 kaki dan bergerak menuju Samudra Hindia.
Dampaknya, Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan tujuh bandara hingga Senin pukul 23.59 WIB. Sebanyak 2.961 penerbangan dan sekitar 341.000 penumpang tercatat terdampak pembatalan, penundaan, atau pengalihan penerbangan.
Belum ada waktu resmi yang dapat memastikan kapan penyebaran abu berhenti. Durasi sebaran sangat bergantung pada muncul atau tidaknya erupsi baru serta perubahan arah dan kecepatan angin. Berdasarkan kecenderungan abu bergerak menjauhi wilayah Indonesia dan sejumlah pemeriksaan bandara yang mulai menunjukkan hasil negatif, konsentrasi abu berpeluang berangsur menipis pada 8–9 September apabila tidak terjadi letusan besar baru.
Namun, perkiraan tersebut bukan kepastian resmi. Abu di lapisan tinggi dan endapan di permukaan dapat bertahan lebih lama karena kondisi cuaca relatif kering. Masyarakat tetap dihimbau memakai masker dan pelindung mata di wilayah terdampak.



