KOTA BEKASI — Muhammad Al Baqir awalnya berlatih wushu sekadar untuk mengisi waktu luang dan menjaga kondisi tubuh. Sepuluh tahun kemudian, olahraga tersebut membawanya mengumpulkan berbagai medali serta terpilih memperkuat Kota Bekasi pada Porprov XV Jawa Barat 2026.
Baqir mulai mengenal wushu sekitar usia delapan tahun. Kesempatan mengikuti pertandingan yang terbuka satu demi satu membuatnya mulai melihat olahraga tersebut secara berbeda.
Medali dan pengalaman yang diperoleh dari berbagai kejuaraan semakin menguatkan keinginannya untuk serius menjadi atlet. Dari sana, tumbuh pula impian untuk tampil pada ajang internasional seperti SEA Games dan Asian Games.
Kini, pada usia 18 tahun, Baqir akan membela Kota Bekasi dalam nomor beregu Men’s Duilian. Ia mengatakan perjalanan masuk ke dalam tim Porprov tidak sepenuhnya berjalan mulus. Rekam prestasi yang dibangun melalui berbagai pertandingan menjadi salah satu pertimbangan utama hingga dirinya terpilih sebagai wakil Kota Bekasi.
Menghadapi Porprov yang berlangsung November mendatang, Baqir memprioritaskan latihan koordinasi tim. Akurasi dan kecepatan serangan, stamina, serta penguasaan nandu juga terus ditingkatkan.
Nandu merupakan rangkaian gerakan akrobatik tingkat tinggi dalam wushu. Gerakannya dapat berupa lompatan dengan putaran di udara yang harus diselesaikan melalui teknik pendaratan sulit.
Baqir membawa modal sejumlah prestasi. Terbaru, ia meraih juara pertama Shuangjiegun D/E Putra pada Kejurnas Wushu Kungfu 2026. Dalam Wugames Universitas Indonesia 2025, ia memperoleh emas Weapon Duida C2 Putra serta perak Changquan ZX dan Daoshu ZX.
Ia sebelumnya merebut emas Er Jie Gun C2 Putra dalam Indonesia International Kungfu Championship 2024 serta perak Daoshu A Putra pada Wugames UI 2024. Baqir juga meraih emas Gun Shu Grup A dalam Wugames UI 2023.
Persiapan Porprov harus dijalaninya bersamaan dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa semester pertama Universitas Indonesia. Baqir menyiasatinya dengan membuat jadwal mingguan yang membagi porsi latihan dan belajar.
Ia juga mencatat tugas beserta tenggat penyelesaiannya. Ketika menghadapi ujian, Baqir menyusun skala prioritas agar tanggung jawab akademik tetap berjalan tanpa mengurangi keseriusan latihan.
Kepada generasi muda, Baqir mengajak mereka tidak takut mencoba wushu maupun melakukan kesalahan ketika baru belajar.
“Wushu bukan cuma soal fisik, tetapi juga disiplin, kesabaran, dan mental yang kuat. Yang penting konsisten berlatih dan jangan mudah menyerah, karena prestasi itu proses, tidak instan,” katanya.

