Pesan Tegas Wali Kota, Bekasi Tak Lagi Ramah untuk Modal Nekat

Kota Bekasi bersiap menghadapi jeda aktivitas tahunan seiring arus mudik Lebaran 2026. Diperkirakan sekitar 60 persen warga atau setara 1,5 juta jiwa meninggalkan wilayah ini untuk pulang ke kampung halaman. Dari total populasi 2,58 juta jiwa, hanya sebagian kecil yang tetap bertahan, menjaga roda kota tetap bergerak meski dalam ritme yang melambat.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyebut kelompok yang bertahan ini sebagai “pemain inti”, mereka yang menjadi penopang aktivitas dasar kota di tengah suasana yang relatif lengang. Namun di balik kondisi tersebut, tersimpan potensi persoalan, mulai dari melemahnya aktivitas ekonomi hingga meningkatnya risiko keamanan di lingkungan permukiman.

Meski demikian, perhatian utama pemerintah kota justru tertuju pada fase setelah Lebaran. Arus balik diprediksi tidak hanya membawa warga yang kembali, tetapi juga gelombang pendatang baru yang ingin mengadu nasib di Bekasi.

Dalam konteks ini, Tri Adhianto menyampaikan peringatan yang cukup keras. Ia menegaskan bahwa Bekasi bukan lagi tempat yang bisa dimasuki hanya dengan keberanian tanpa kesiapan. Persaingan kerja yang semakin ketat menuntut setiap pendatang memiliki keterampilan, kemampuan adaptasi, serta nilai tambah yang jelas.

Ia juga mengingatkan bahwa kesiapan tidak berhenti pada aspek pekerjaan. Kepastian tempat tinggal menjadi syarat mutlak. Pendatang yang datang tanpa rencana, tanpa hunian, dan tanpa pekerjaan berisiko menambah beban sosial di perkotaan.

Bekasi, kata dia, tetap terbuka, tetapi dengan standar yang semakin tinggi. Kota ini tidak menutup pintu, namun juga tidak memberi ruang bagi mereka yang datang tanpa arah. Dalam arus urbanisasi yang terus berulang setiap tahun, hanya mereka yang siap yang akan mampu bertahan dan tumbuh.

Leave a Response